Kisah Pace Budi: Membawa Hangatnya Mentari Papua ke Bumi Melayu Jambi
![]() |
| Pace Budi |
Merantau bukan sekadar berpindah tempat tinggal, melainkan sebuah seni merajut cerita baru di atas kanvas perbedaan. Itulah yang digambarkan oleh Pace Budi, seorang pria yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di tanah Papua, namun kini memilih memijakkan kakinya dan meniti hari di Provinsi Jambi.
Kisah perjalanan hidupnya adalah bukti nyata betapa kayanya toleransi dan adaptasi budaya di Indonesia.
Dari Timur ke Jantung Sumatra
Bagi mereka yang pernah tinggal lama di Papua, istilah "Pace" bukan sekadar panggilan, melainkan simbol keakraban, kehormatan, dan rasa kekeluargaan yang mendalam. Meski kini menetap di Jambi, identitas kehangatan khas Indonesia Timur itu tidak pernah luntur dari diri Pace Budi.
Perjalanan dari Papua menuju Jambi tentu membawa perubahan lanskap yang drastis—dari gugusan gunung dan pesisir Papua yang megah, ke wilayah Jambi yang kental dengan budaya Melayu, perkebunan, dan aliran Sungai Batanghari. Namun, bagi Pace Budi, perbedaan ini bukanlah sekat, melainkan ruang baru untuk bertumbuh.
Menjaga Semangat Lewat Kebersamaan
Pace Budi dikenal sebagai pribadi yang supel dan mudah bergaul. Di lingkungan barunya di Jambi, ia berhasil membawa energi positif khas Indonesia Timur yang terkenal ceria, terbuka, dan gemar bernyanyi.
"Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung." Pepatah ini tampaknya sangat menjiwai perjalanan Pace Budi. Ia menghormati adat istiadat Melayu Jambi, tanpa sedikit pun kehilangan jati diri "anak lama" Papua yang melekat padanya.
Dalam sebuah momen santai (seperti yang terlihat pada potretnya berlatar belakang panggung "Nyanyi-Nyanyian"), Pace Budi menunjukkan bahwa musik dan hiburan selalu menjadi jembatan terbaik untuk mencairkan suasana dan menyatukan semua golongan, tak peduli dari mana mereka berasal.
Inspirasi dari Sebuah Perantauan
Kisah Pace Budi mengajarkan kita beberapa hal penting tentang kehidupan:
- Keberanian Keluar dari Zona Nyaman: Berpindah pulau dengan kultur yang sangat berbeda membutuhkan mental yang kuat.
- Fleksibilitas Budaya: Mampu beradaptasi di tanah perantauan tanpa harus melupakan asal-usul atau tempat kita dibesarkan.
- Persaudaraan Tanpa Batas: Menjadi bukti bahwa sekat geografis antara Papua dan Jambi bisa dijembatani dengan senyuman dan keterbukaan hati.
Kini, Jambi telah menjadi rumah kedua bagi Pace Budi. Di sana, ia terus melangkah, meniti hari dengan kaos santai, celana kargo andalannya, dan senyum ramah yang selalu siap menyapa siapa saja. Selamat melanjutkan petualangan di Bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah, Pace! Semangatmu adalah inspirasi bagi kita semua.

Mantap Broo 👍👍👍
BalasHapus